Rise UP !
Aku hanyalah seorang pemudi, yang hanya mengharapkan cita melalui angan-angan, aku tak cukup berani untuk memimpikan hal yang begitu besar, bagiku itu mustahil. Aku hanyalah seorang pemudi, yang berasal dari keluarga yang tak berkecukupan dan beruntung seperti mereka. Ya, aku sangat pesimis dan tidak percaya diri dengan kenyataan bahwa aku tak cukup mampu dan bisa bersaing, bergaul, bahkan hanya sekedar bercengkrama dengan orang dan teman-temanku disekolah maupun yang berada di lingkungan sekitar rumah, atau yang biasa disebut dengan istilah 'Antisosial', karena aku merasa seolah-seolah dunia tak menginginkan hadirku di dunia ini. Namaku Rei, aku adalah anak tunggal, dan aku hanya salah satu murid SMA yang tinggal menunggu kelulusannya saja. Aku menjalani hari seperti biasa, tidak ada yang menarik minatku untuk beranjak dari zonaku saat ini. Bagiku, kegiatan bersosialisasi sekarang ini hanya membuang-buang waktu, karena saat ini orang-orang hanya memedulikan dan mementingkan diri mereka sendiri, terlalu memikirkan pendapat buruk orang lain di internet, dan merusak diri sendiri dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Menurutku, aku cukup beruntung dengan hal itu, menjauhkanku dari hal-hal negatif yang ada di luaran sana.
Hari ini, sama seperti hari lainnya, rasa bosan dan muak yang terus menggelayuti pikiran dan perasaanku datang untuk yang kesekian kalinya.
"Heh! Cupu! Hahahaha", ledekan yang selalu terlontar dari orang-orang yang aku terima selama ini sudah menjadi makanan sehari-hari, inilah resiko yang harus dihadapi orang-orang sepertiku yang tak mampu bersosialisasi dengan orang lain, aku diam bukan berarti aku tak mampu menghadapi balik perkataan mereka kepadaku hanya saja tidak ada untungnya bagiku membalasnya. Terkadang lucu, melihat mereka selalu membully dan menjudge orang lain berdasarkan penampilan luarnya saja tanpa melihat latar belakang dan potensi atau kelebihan orang lain yang mungkin lebih dari diri mereka sendiri.
Siang itu, sepulang sekolah sebelum pulang kerumah aku selalu membantu ibuku bekerja di salah satu usaha rumahan didekat rumah. Sebenarnya, ibuku tidak mau aku membantunya karena ia bilang bahwa aku seharusnya belajar saja daripada membantunya, tapi aku tak mau dan tetap membantunya bekerja. Ayahku sudah lama tiada, jadi sekarang ibuku yang menjadi tulang punggung dan mencari nafkah untuk kami berdua.
"Kamu sudah pulang, Nak? Oh iya, hari ini kamu jangan membantu ibu dulu ya, sebentar lagi kan Ujian Nasional, kamu fokus belajar saja, jangan hiraukan ibu, ibu tidak apa-apa bekerja sendiri dulu, kali ini jangan membantah, ibu ingin kamu mempunyai masa depan yang baik dan mempunyai pekerjaan yang bagus pula",
"Hemm... Baiklah, Bu".
Aku pulang kerumah masih memikirkan keadaan ibu yang kutinggal bekerja sendiri disana, tidak seperti biasanya. Perasaan bersalah dan khawatir akan ibu terus menghantuiku sedari aku pulang dari usaha rumahan tersebut. Aku terus berpikir bagaimana caraku agar bisa membantu perekonomian keluarga kami yang terkadang hanya untuk makan saja susah, karena gaji atau penghasilan ibu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Kami pernah dijanjikan akan diberikan bantuan berupa sembako dan uang oleh pemerintah setempat, tapi bantuan itu tak pernah kami terima. Aku bukannya tak ingin berusaha dan mengharapkan bantuan yang tidak pasti, tapi aku kerap kali mencoba mendapatkan pekerjaan paruh waktu namun selalu gagal karena mereka menolak dengan alasan aku tak cukup umur untuk bekerja di tempat mereka, terkadang aku merasa Tuhan sangat tidak adil kepada kami, tetapi ibu selalu memberitahuku bahwa Tuhan itu selalu adil, dibalik ini semua pasti ada hikmah dan pelajarannya, dan juga suatu saat nanti mungkin ada kehidupan yang lebih baik untuk kami, karena itulah ibuku menaruh harapan yang besar padaku, ibu lah alasanku untuk tetap semangat menjalani hidup.
Setelah Ujian Nasional dan perpisahan sekolah, aku memulai kehidupan yang baru sebagai seorang mahasiswi di salah satu Universitas Negeri, berkat usaha dan doa dari ibuku aku bisa mendapatkan beasiswa, sembari aku berkuliah, aku juga bekerja di salah satu restoran dekat tempatku berkuliah.
Tahun-tahun berlalu, setelah aku mendapat pengalaman bekerja di restoran yang cukup lama, akhirnya aku membuka rumah makanku sendiri. Berkat usaha dan doa akhirnya aku bisa menjadi orang yang dibilang cukup sukses sekarang, aku sudah bisa membahagiakan ibuku, aku yang semula 'Antisosial' akhirnya mampu membuka diri untuk bersosialisasi dengan orang-orang, ternyata berbincang dan bercengkrama tak selamanya buruk dan memberikan hal yang negatif, aku cukup beruntung dekat dengan orang-orang yang selalu mendukungku dan selalu memberikan energi positif. Kehidupan bermasyarakat di zaman sekarang memang jauh lebih sulit daripada di masa lampau, karena dulu orang-orang berkomunikasi dan bersosialisasi secara langsung, yang menurutku sangat mudah dan lebih merasakan ikatan kekeluargaan yang sangat kuat. Tapi pada saat ini, orang-orang hanya mementingkan ego-nya saja, terfokus pada hal yang maya daripada hal-hal lain yang ada di sekitarnya, memang berkomunikasi menjadi lebih mudah karena pesatnya perkembangan teknologi, tapi tidak seharusnya kita mengabaikan hal-hal kecil di sekeliling kita yang mungkin besar pengaruhnya bagi banyak orang.
Dan juga, masih banyak orang yang menjunjung tinggi senioritas, tidak hanya dari kalangan pekerja, namun para remaja atau pelajar pun juga banyak yang menjunjung tinggi hal ini. Biasanya, hal-hal yang berhubungan dengan senioritas berujung dengan bully-an terhadap junior mereka yang mungkin bersikap tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Mungkin bagiku hal tersebut masih bisa aku atasi dengan tidak terlalu memedulikan omongan mereka, tapi tentu saja tidak semua orang bisa mengacuhkan dan bertahan dari perkataan orang lain tentang keburukan, keadaan fisik yang tidak sempurna, dan cemoohan yang dilontarkan begitu saja, tanpa berpikir mereka langsung membully dan menjatuhkan orang lain secara tidak langsung.
Aku hanya ingin dan berharap, bahwa negeri ini, dimana aku dilahirkan dan dibesarkan, dan masyarakat yang ada didalamnya agar tersadar, bahwa terkadang kita, manusia, bisa lupa untuk memanusiakan manusia lainnya. Kalau bukan dimulai dari kita, para pemuda dan pemudi Indonesia, siapa lagi yang akan mengubah pemikiran negeri ini?
DarikuUntukNegeriku.
Opini dari Salsabilla Firmanda
(Siswa SMA Negeri 1 Manggar/ 72)
(Admin, HR)
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Merdeka Belajar Dalam Masa Pandemi COVID-19
Covid-19 tidak lagi menjadi kata yang asing ditelinga banyak orang, Virus yang hadir sejak Desember 2019 di Wuhan, China, ini menyebar begitu cepat ke berbagai penjuru dunia dalam hitun
Mosaik Modernisasi dalam Bernalar Kritis Pelajar Pancasila
Pada masa pandemi COVID-19 ini, pembelajaran tatap muka pada sekolah-sekolah di Indonesia menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Salah satu upaya sekolah untuk menyelesaikan hal tersebut
Berkebinekaan Global bersama Globalisasi
Setiap negara, pastinya memiliki penerus sebagai penegak dan pemimpin bangsanya, yaitu muda-mudi saat ini, termasuk juga di Indonesia. Para generasi penerus ini merupakan harapan masa d
Bunga Toleransi di Tengah Arus Globalisasi
Salah satu identitas bangsa Indonesia yang paling dikenal dari dulu hingga saat ini adalah keberagaman atau kebinekaan yang dimiliki. Identitas tersebut terbentuk dalam waktu yang jelas
Peran Pemuda dalam Konstruksi Masa Depan Bangsa
Peran pemuda dalam pembangunan bangsa sangatlah penting. Hal ini dikarenakan pembangunan suatu bangsa terletak pada generasi penerusnya. Demokrasi, ekonomi, teknologi, dan kemajuan ilmu
Pendidikan Karakter, Upaya Mencegah Dampak Negatif Westernisasi
Pada era globalisasi, westernisasi terdapat dalam perilaku dan karakter remaja terjadi karena para kaum milenial atau para remaja menganggap budaya barat adalah budaya yang gaul, modern
Naik Kelas Tapi Tidak Belajar?: Solusi Merdeka Belajar Di tengah Pandemi
Penyebaran virus Covid-19 di Indonesia memberikan dampak besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Menteri Pendidikan, Bapak Nadiem Anwar Makarim, melalui surat edaran Mendik
TRANSFORMASI ASESMEN PEMBELAJARAN DALAM BINGKAI MERDEKA BELAJAR
Gaung program sekolah penggerak semakin terdengar akhir-akhirnya ini. Sebanyak 2500 sekolah dari 34 provinsi dan 111 kabupaten/kota di Indonesia sudah menerapkan program ini mulai tahun
Teknologi dan Perubahan Sosial di Era 4.0
Pada hakekatnya, kemajuan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Namun, kita bisa mengambil langkah bijak terhadap diri kita sendiri, ke
Dampak Westernisasi Terhadap Karakter Remaja Masa Kini
Masa remaja adalah masa transisi antara kanak-kanak menuju dewasa. Di mana, perilaku manusia muda ini bisa berubah dengan cepat, mengalami krisis identitas, dan juga emosi yang kuat. Re