Kisah Gadis Manis
Di sebuah desa ditengah-tengah kota, ada seorang gadis manis bernama Rahmadani. Dia sekarang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tidak seperti anak seusianya, dia harus berjuang lebih extra untuk bisa bersekolah. Bagaimana tidak, jarak rumahnya ke sekolah kurang lebih 8 km, terlebih lagi malam harinya dia harus bekerja di sebuah cafe untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sudah hari senin, menandakan rahmadani akan berangkat kesekolah, pada pagi hari dia dibangunkan oleh nenek nya untuk bersiap menuju sekolah, akan tetapi rahmadani tetap saja tertidur dan merasa lelah karena semalaman dia bekerja dan pulang larut malam.
Akhir-akhir ini rahmadani sering tidak masuk sekolah karena rasa malas untuk bangun pagi, tugas-tugas yang diberikan oleh guru pun tidak di kerjakan dan dia tidak mengerti akan tugas yang diberikan oleh gurunya karena sering izin untuk tidak bersekolah.
Pada akhirnya, rahmadani pun memutuskan untuk berhenti sekolah karena tidak sanggup lagi bangun pagi, dan lebih memilih untuk bekerja supaya bisa membantu kebutuhan sehari-hari di rumah neneknya.
Pada suatu ketika, rahmadani berhenti bekerja dan memilih untuk tinggal bersama ibunya di kota, saat di kota rahmadani melihat banyak sekali anak seusianya yang bersekolah, seketika itu ada rasa menyesal di dirinya karena lebih memilih berhenti sekolah dan mementingkan pekerjaannya. Mata rahmadani berkaca-kaca ketika dia mengingat masa-masa saat bersekolah di desa, om rahmadani bertanya kepadanya "apa yang kamu rasakan ketika melihat anak seusiamu berpakaian sekolah dan memiliki banyak teman?" rahmadani menjawab "aku menyesal karena berhenti sekolah dan mementingkan pekerjaan, aku malu sangat merasa malu karena tidak bersekolah, jika ditanya pendidikan terakhirku apa, aku hanya bisa menjawab sekolah dasar". Dan om rahmadani pun menanyakan "apakah kamu ingin bersekolah lagi?", dia menjawab dengan semangat "iya aku ingin sekolah lagi" sambil tersenyum lebar.
Tepat satu minggu mengurus surat perpindahan sekolah, akhirnya rahmadani pun bisa memulai hari-harinya sebagai pelajar lagi di sekolah menengah pertama, dia sangat senang dan tersenyum lebar. Rahmadani mungkin pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal, namun keinginan untuk bersekolah lagi sangat tinggi, banyak diluar sana anak-anak yang berhenti sekolah namun malu untuk bersekolah lagi dan memilih untuk bekerja, semoga rahmadani bisa menjadi yang terbaik untuk keluarganya kelak.
Cerpen Karya Tasyiqah Pratama
(Siswa SMA Negeri 1 Manggar/38)
(Admin, HR)
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Merdeka Belajar Dalam Masa Pandemi COVID-19
Covid-19 tidak lagi menjadi kata yang asing ditelinga banyak orang, Virus yang hadir sejak Desember 2019 di Wuhan, China, ini menyebar begitu cepat ke berbagai penjuru dunia dalam hitun
Mosaik Modernisasi dalam Bernalar Kritis Pelajar Pancasila
Pada masa pandemi COVID-19 ini, pembelajaran tatap muka pada sekolah-sekolah di Indonesia menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Salah satu upaya sekolah untuk menyelesaikan hal tersebut
Berkebinekaan Global bersama Globalisasi
Setiap negara, pastinya memiliki penerus sebagai penegak dan pemimpin bangsanya, yaitu muda-mudi saat ini, termasuk juga di Indonesia. Para generasi penerus ini merupakan harapan masa d
Bunga Toleransi di Tengah Arus Globalisasi
Salah satu identitas bangsa Indonesia yang paling dikenal dari dulu hingga saat ini adalah keberagaman atau kebinekaan yang dimiliki. Identitas tersebut terbentuk dalam waktu yang jelas
Peran Pemuda dalam Konstruksi Masa Depan Bangsa
Peran pemuda dalam pembangunan bangsa sangatlah penting. Hal ini dikarenakan pembangunan suatu bangsa terletak pada generasi penerusnya. Demokrasi, ekonomi, teknologi, dan kemajuan ilmu
Pendidikan Karakter, Upaya Mencegah Dampak Negatif Westernisasi
Pada era globalisasi, westernisasi terdapat dalam perilaku dan karakter remaja terjadi karena para kaum milenial atau para remaja menganggap budaya barat adalah budaya yang gaul, modern
Naik Kelas Tapi Tidak Belajar?: Solusi Merdeka Belajar Di tengah Pandemi
Penyebaran virus Covid-19 di Indonesia memberikan dampak besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Menteri Pendidikan, Bapak Nadiem Anwar Makarim, melalui surat edaran Mendik
TRANSFORMASI ASESMEN PEMBELAJARAN DALAM BINGKAI MERDEKA BELAJAR
Gaung program sekolah penggerak semakin terdengar akhir-akhirnya ini. Sebanyak 2500 sekolah dari 34 provinsi dan 111 kabupaten/kota di Indonesia sudah menerapkan program ini mulai tahun
Teknologi dan Perubahan Sosial di Era 4.0
Pada hakekatnya, kemajuan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Namun, kita bisa mengambil langkah bijak terhadap diri kita sendiri, ke
Dampak Westernisasi Terhadap Karakter Remaja Masa Kini
Masa remaja adalah masa transisi antara kanak-kanak menuju dewasa. Di mana, perilaku manusia muda ini bisa berubah dengan cepat, mengalami krisis identitas, dan juga emosi yang kuat. Re